Kisah Spike, Anak yang Kejang 100 Kali Sehari

Jika Anda adalah seorang ibu, maka lebih waspadalah jika buah hati Anda sering demam. Jangan sampai apa yang terjadi pada “Spike” ini terjadi juga pada buah hati Anda. Amiin.

Tragedi itu pertama terjadi bulan Januari tahun 2011 lalu. Spike mengutarakan pada ayahnya bahwa ia sangat merasa lelah dan ingin sekali tidur setelah makan siang.

Dan benar, setelah makan siang bersama, anak umur 2 tahun itu pun tertidur pulas. Penasaran karena tak biasanya Spike lemas dan lesu, ayahnya, Tom pun melakukan pemeriksaan. Dia mengelus dahi Spike.

Ternyata Spike sedikit demam. Suhu tubuhnya naik dan Tom menganggap itu biasa saja. Sejak kecil, Spike memang sering mengalami demam dan kembali normal setelah minum Paracetamol.

Tapi sepertinya kali ini berbeda. Setelah 4 hari, suhu tubuh Spike tak kunjung normal. Sampai tragedi itu pun terjadi.

anak kejang step

“Saya mendengar teriakan yang sangat kencang seperti suara hewan dan tahu-tahu saya mendapati Spike tengah kejang hebat. Padahal ia adalah anak yang sangat sehat jadi hal ini begitu menakutkan,” kisah Tom, Ayah Spike.

Karena demam dan kejang merupakan kondisi yang sangat serius, Tom pun membawa Spike ke Dokter.

 

PEMERIKSAAN MEDIS PERTAMA

Saat berada di UGD, tim dokter sempat melakukan sejumlah tes terhadap Spike dan mengatakan bahwa kondisi itu tidak perlu dikhawatirkan. Kejang  akibat demam biasa dan terjadi pada 5 % anak-anak.

Karena itu adalah kata Dokter, Tom pun percaya. Lebih tenang dari sebelumnya, Spike pun pulang ke rumah.

Tapi, selang sehari, waktu malam, Spike kembali mengalami kejang. Ketika dibawa ke UGD, tim dokter tetap keukeuh dan mengatakan sebagian anak penderita kejang akibat demam juga akan mengalami kejang kedua.

Peristiwa yang terjadi pada bulan Januari 2011 itu memang hanya berlangsung selama lima menit, namun yang tak terduga seminggu kemudian Spike mengalami kejang berkali-kali dalam sehari. Dari situ anak spesial ini didiagnosis terkena EPILEPSI.

 

SPIKE MENGALAMI KEJANG 100 KALI DALAM SEHARI

Ketika menjalani pemeriksaan lanjutan, tim dokter memberinya obat-obatan yang dapat mengendalikan kejang yang diklaim efektif pada 45 persen pasien epilepsi. Tapi nyatanya setelah mencoba berbagai pengobatan, Spike tak kunjung pulih dari kejang.

“Seseorang harus berada disampingnya setiap waktu. Pasalnya Spike terhitung telah mengalami kejang 70-100 kali dalam sehari,” tandas Tom, seperti dilansir foxnews, Kamis (14/3/2013).

Anda tentu bisa bayangkan betapa sakitnya anak sekecil itu mengalami kejang yang sangat inten. Ya, sampai 2013, 2 tahun Spike sudah mengalami kondisi itu. Sebagai seorang ibu, ini pasti sangat menyedihkan.

Sampai akhirnya, karena merasa putus asa dengan pengobatan medis yang tak kunjung menunjukkan hasil, Tom sekeluarga pun memilih untuk menjalani terapi alternatif.

 

SPIKE MULAI MENJALANI TERAPI ALTERNATIF

Spike menjalani Diet ketogenik. Berupa praktek pola makan rendah karbo dan tinggi lemak namun setiap bahan makanan yang dikonsumsi dibatasi hanya 10 gram saja.

Pada usia 4 tahun, menu makan harian Spike misalnya krim padat, mentega padat, sepotong kecil daging dan dua buah bluberi. Untuk sementara waktu, diet tersebut tampaknya berhasil dan Spike bebas dari kejang hingga akhirnya pada bulan Agustus 2011, tahu-tahu kejangnya kumat lagi.

Kondisi ini membuat putus asa orang tua Spike. Membawanya lagi ke dokter, dan akhirnya Spike disarankan untuk menjalani OPERASI OTAK.

 

SPIKE MENJALANI OPERASI OTAK

Kemudian pada bulan November 2011, Spike dirujuk ke Cleveland Clinic’s Epilepsy Center. Disana tim dokter bedah memutuskan bahwa Spike merupakan kandidat yang tepat untuk operasi otak.

Spike terakhir kali mengalami kejang pada tanggal 9 November 2011 tepat sebelum operasinya dilakukan. Namun sejak operasi pengangkatan frontal lobe-nya berhasil dilakukan, kejang Spike tak lagi kambuh dan ia mulai mengurangi konsumsi obat-obatannya.

Terlepas dari itu, kekhawatiran lain yang diungkap orang tua Spike adalah efek samping operasi terhadap kepribadian putra mereka.

Tapi kekhawatiran itu bisa tertepis oleh fakta bahwa sekarang ini Spike sudah bisa sekolah dan bermain bersama teman-temannya. Berita kesembuhan Spike ini ditulis dalam berbagai media Dunia :

  • http://abcnews.go.com/Health/surgeons-remove-half-boys-brain-stop-100-seizures/story?id=18705165
  • http://www.dailymail.co.uk/news/article-2292325/Amazing-recovery-year-old-boy-doctors-remove-half-brain-stop-100-seizures-day.html
  • https://health.clevelandclinic.org/2013/03/100-seizures-a-day-surgery-saves-boys-life/
  • https://newsonia.com/reader/report/half-of-boys-removed-to-stop-seizures/
  • http://health.detik.com/read/2013/03/14/090030/2193499/1202/bocah-yang-kejang-100-kali-dalam-sehari-ini-akhirnya-sembuh-setelah-operasi

 

RENUNGAN UNTUK SEORANG IBU

Kita pasti bisa merasakan betapa mirisnya hati seorang ibu melihat anaknya demam dan mengalami kejang. Tidak hanya menyedihkan. Kondisi semacam ini juga bisa menguras perasaan, waktu, tenaga dan tentu saja uang.

Semoga kita semua terhindar dari kejadian serupa ya Bun… Amiin

Jika anak Anda sering demam, Jangan tunggu sampai kondisi yang lebih berat terjadi. Anda bisa menstabilkan suhu tubuh buah hati Anda dengan melakukan Terapi Step menggunakan Gelang Step.

Lalu bagaimana cara melakukan terapi step?

Manfaatkan form konsultasi ini. Silakan tanya seputar demam anak dan Terapi Step untuk mencegah terjadinya STEP.

Atau jika Anda ingin berkonsultasi langsung via WhatsApp, Silakan kontak No berikut: 085713616405 (Edy Arif T)